SINOPSIS
Aku bukanlah
siapa- siapa. Sampai aku bertemu dengan Bintang. Seorang cewek yang sangat
menyebalkan dan merepotkan.
Aku bertemu
dengannya di taman sekolah, saat dia menduduki tempat favorit ku. Akhirnya aku
bertengkar denganya. Dan dia adalah orang pertama yang paling aku benci.
Belum ada 24 jam,
aku sudah dipertemukan lagi denganya. Mengurus perpustakaan denganya?! ya ampun, mimpi apa aku semalam. Sehari saja
baru ketemu langsung ngajak ribut, gimana kalo berbulan- bulan?!. Dan parahnya,
aku disuruh menjaganya. Dikira aku bodyguardnya apa. CK.
Hari- hari
bersamanya terasa berada di neraka. Gimana enggak AC diperpus aja rusak. Biar
saja dia yang repot mengurusi ini dan itu. Masa bodo dengannya. Biar tahu rasa.
Semakin
lama aku bersamanya, ada sesuatu rasa lain dalam benakku. Mungkin kalian sudah
bisa menebaknya. Tapi sebelum aku menyatakan dia sudah menghilang. Entah dia
pergi kemana, sejak pertengkaran kami waktu itu.
Aku Cuma ingin
menyampaikan isi hatiku, tolong kau dengarkan baik- baik. karena aku tak akan
mengulangnya untuk yang kedua kali.
Bintang malam
dengarkan hatiku..
Aku ingin melukis
sinarmu dihatiku..
Embun pagi
katakan padanya..
Izinkanku ungkap
segenap rasa yang membelenggunya..
Kerispatih<lagurindu>
Penantian
yang mungkin akan menjadi sia- sia.
prolog
Aku
berdiri memandangi langit malam. Saat itu hanya tinggal malam yang mau
menemaniku berbicara. Hanya tinggal malam yang mau mendengarkan kisahku. Dan
hanya tinggal malam yang mau menemaniku hingga aku bosan untuk berbicara.
Aku
punya cerita yang akan aku bagi untuk malam. Hanya sebuah kisah sederhana,
kalau ini bisa disebut sebuah kisah. Aku duduk di atas bukit, agar aku bisa
memandang malam lebih dekat.
Angin
malam sudah semakin menusuk kulit. Tapi aku tak peduli, aku tak mau pulang
kerumah. Percuma, tak ada satu anggota keluargapun yang peduli padaku.
Jadi
aku memilih untuk memberikan sebuah kisah untuk malam. Aku akan menceritakan
sebuah kisah untuk malam. Jika malam suka dengan kisahku, biarkan Bintang
kembali padaku. Tapi, apabila malam tak suka dengan kisahku. Aku rela Bintang
pergi denganmu. Itu nazarku untuk Bintang.
***
Aku memandangi
tampang diriku didepan cermin. Aku telah selesai membereskan seragam putih-
biruku. Dan aku siap untuk pergi ke sekolah.
Sekolahku tidak
jauh dari rumah. Cukup naik satu kali angkot. Sekolahku tidak terlalu besar,
dan tidak terlalu kecil. Cukuplah untuk menampung 630 siswa dengan masing-
masing kelas 35 siswa.
Sekolahku
adalah sekolah terbaik di daerah tempat
tinggalku. Hanya orang beruntung seperti diriku ini yang bisa masuk disekolah
ini. Dan hanya orang pintar yang dapat masuk kesekolah ini. Ya seperti diriku
ini. Hehehe.
Sekolah
dengan fasilitas yang lumayan lengkap, seperti lab. Komputer, lab. IPA, lab.
Bahasa, lapangan, perpustakaan online, dan sebagainya. Aku senang berada di
taman sekolah, sambil menunggu bel masuk.
Waktu
menunjukan pukul 06.30. Aku telah sampai disekolah. Saat itu masih terlalu
sedikit murid yang masuk. Biasanya jam- jam segini aku sering pergi ketaman
belakang. Disana aku bisa membaca buku dengan tenang.
Taman sekolahku
sangat rimbun dengan pohon, jadi kalau pagi rasanya sejuk disana. Aku duduk
disalah satu bangku taman dipojok. Tempatnya strategis, karena terletak diantara
sudut taman.
Ketika sedang
asyik membaca, tiba- tiba jantungku berdenyut cepat. Aku sudah tahu apa yang
terjadi. Ternyata ”dia” berdiri didepanku. Aku kaget tidak menyangka aku bisa
sedekat ini dengan dia.
”Minggir, itu tempat duduk gue.” ujarnya
ketus. Aku menaikan satu alisku.
” Denger nggak sih, minggir. Gue mau
duduk.”
”Kalo mau duduk kan masih ada tempat yang kosong.
Tuh disana kosong.” sambil menunjuk bangku yang disebelahnya.
” Tapi, gue maunya disini.”
” Tapi aku duluan yang disini.” ujarku
nggak mau kalah.
” Tapi, gue maunya disini!” aku kaget,
yaiyalah jelas aja dia sampe ngebentak gitu.
” Aku nggak peduli. Kan aku duluan yang
disini.”
”Lu nyebelin banget sih.”
” Kamu juga nyebelin, 2 kali nyebelin dari
pada aku. Wek.”
” Udah deh nggak usah pake aku- kamu
segala. Basi tauk nggak.”
” Bodo. Wek.”
” Lu tuh ya.” sambil siap memukul.
” Apa. Mau mukul aku. Pukul nih, mau
bagian yang mana. Nih pukul kalo berani.” sambil memajukan wajahnya. Otomatis
”dia” tidak jadi memukul. Orang ditantangin kayak gitu.
” Kalian ini ada apa sih, pagi- pagi kok
berantem. Tadi ibu lihat Senja mau mukul kamu ya.” ujar bu Ratri yang melihat
pertengkaran tadi.
” Enggak kok bu. Bintang sama Senja Cuma
lagi...”
”Latihan akting bu.” ujar senja. Bintang
hanya memandang Senja dengan tanda tanya besar.
”Oh. Yaudah kalo begitu. Tapi jangan lupa
bentar lagi bel.”
” Iya, bu.” ujar mereka bersamaan.
” Gue nggak punya utang terima kasih sama
lo.” ujar Senja sambil pergi meninggalkan Bintang.
Bintang hanya tersenyum.” sama- sama, aku
yakin suatu saat nanti kamu akan bilang terima kasih untukku. sekarang aku sudah
memberi jawabanya.”
***
Namaku
bintang. Aku ini hanya seorang gadis berkerudung yang selalu membutuhkan orang
lain. Aku ini hanya gadis berkerudung biasa seperti halnya anak- anak lain.
Yang membedakanku dengan yang lain adalah imanku dan agamaku. Aku ini hanya
gadis berkerudung yang selalu patuh pada aturan norma yang berlaku. Dan sekali
lagi aku adalah gadis berkerudung yang tak mau berbuat macam- macam.
Singkatnya aku ini gadis berkerudung yang
baik- baik. Tidak pernah mencoba untuk merokok, mabuk- mabukan, dan bahkan
masuk kedalam pergaulan bebas.
Lain
halnya dengan Senja utama, yah memang namanya seperti nama kereta malam. Memang
aneh si kedengaranya. Tapi, aku senang melihatnya. Rambutnya yang cepak dan
badanya yang tinggi, juga berwajah tampan. Tak heran banyak adik kelas yang
menyukainya. Termasuk diriku. Hehehe. Tapi sifatnya, yah tahu sendirikan tadi
gimana dia. Pantas saja dia tak punya teman, padahal kan banyak yang mau
berteman dengan dia.
Aku
sering melihat dia duduk sendiri di bangku taman. Melihat ekpsresinya saat dia
sedang hanyut kedalam imajinasinya. Melihat emosinya saat dia merasa jengkel
dengan tokoh dalam buku. Dan juga kesenangan yang ia dapatkan ketika membaca
buku. Semua ku suka, tapi tidak dengan sifatnya. Hehehe.
Sungguh
dia adalah cowok yang manis, tapi sayang
sifatnya dia yang membuat orang enggan untuk berteman. Seharusnya diakhir masa
SMP nya dia harus membuat kenangan indah bersama temanya. Tapi kalo orangya
tidak mau berteman sih ya apa boleh buat.
” Bintang, kamu dipanggil sama bu Sri.
Disuruh kekantor.” ujar Nazwa.
” Oh. Yaudah makasih ya, Wa,”
Ada apa ya aku dipanggil sama bu Sri.
Sesampainya
diruang guru. Ternyata bukan hanya aku yang dipanggil, ada satu anak lagi yang
telah berdiri didepan meja bu Sri. Ketika memasuki ruangan, rasa senang dan
rasa jengkel jadi satu.
” Lo lagi- lo lagi.”ujarnya yang
ternyata dia adalah senja.
” Kamu lagi- kamu lagi.” Ujar mereka bersamaan. Belum ada 24 jam, sudah
ketemu lagi. Memang jodoh nggak kemana. Hadeh.
“ Kalian sudah saling kenal. Kalo begitu
ibu jadi tidak usah ribet mempersatukan kalian.”
Apanya yang mempersatukan bu.
” Maksudnya.” ujarku tidak mengerti.
”Udahlah bu nggak usah dijelasin. Si tin-
tin satu ini emang rada lemot.” dengan senyum sinis mengembang, aku hanya
memajukan bibir sambil terus mencibir.
” Sudah- sudah. Gini loh nak Bintang, ibu
minta kamu sama nak Senja untuk mengelola perpustakaan sekolah. Ini semua dari
suara guru- guru disini. Demi memajukan minat baca anak- anak, sekolah akan
menanggung semua biaya yang dikeluarkan. Mau kan?”
” Ngg gimana ya bu.”
” Bilang aja nggak. Susah banget sih.” aku
balas mencibir.
Bikin jengkel aja sih ni anak.
” Tentu saja iya. Demi memajukan minat
baca anak- anak.” dengan penekanan
dikata memajukan. Kini yang terlihat diwajah Senja hanya tatap kosong tanpa
arti.
Bodo amat emang aku pikirin.
***
Hari pertama aku
dan senja mengelola perpustakaan. Banyak sekali buku yang harus dipindahkan
dari kardus ke rak. Aku menutupi hidungku dengan masker. Agar debu- debu tidak
terhirup olehku. Sedangkan senja hanya duduk diatas salah satu kardus dan asik
membaca buku. Aku menatapnya dengan sinis, dan dibalas lebih sinis lagi
olehnya. Aku hanya mencibir.
Aku
melanjutkan kembali membersihkan debu diatas rak. Tak sengaja aku menghirup
debu. Sehingga aku jadi terbatuk- batuk.
”Uhuk ukhuk uhuk.” sambil memegangi dada.
” Makanya kalo bersih- bersih itu yang
bener.” ujar senja sambil tetap membaca. Tapi seketika bintang ambruk sambil
terbatuk- batuk.
” Woi, lu kenapa?” sambil memandangi
bintang dengan khawatir, tapi tentu saja tidak diperlihatkan secara langsung.
” Uhuk uhuk uhkhuk.” kerudungku seakan
menyempitkan pernafasanku, rasanya sesak sekali di dada.
Ya allah, jangan sekarang. Kumohon jangan
sekarang ya allah. Doaku
dalam hati.
” Tunggu, gue panggil guru dulu.”
Mana bisa nunggu. Dodol.
***
Tiga
hari setelah kejadian waktu itu. Senja jadi baik sama aku. Dia
nggak suka ngomong kasar lagi, tapi terkadang
emosinya sulit dikontrol.
Ketika
aku mengangkat beberapa buku untuk diletakan kembali ke rak. Tanpa disuruh dia
mau membantu membawakan beberapa buku. Aku nggak ngerti kenapa dia bisa jadi
baik sama aku. Tapi dilain sisi aku senang dia mau berubah.
” Sini gue aja yang bawa, emang gue cowok
apaan nggak bisa bawa barang segini.” ujarnya dengan tampang sinis. Aku hanya
tersenyum, dan membiarkan dia merebut buku- buku itu dengan kasar. Tapi aku
tahu dia punya niat untuk membantu, tetapi bingung untuk memulai.
***
Aku berdiri di depan gerbang sekolah.
Menunggu senja yang tak kunjung datang. Padahal sudah lebih dari lima belas
menit dia pergi kekamar mandi. Mana hari sudah makin sore. Aduh senja, kamu
kemana sih.
” Senja, cepetan dong. Aku udah mati
kering nih disini.”
Tapi senja tidak datang juga. Yaudah deh
aku pulang sendiri aja. Emang aku nggak bisa pulang sendiri apa. Biasanya juga pulang
sendiri.
Ketika
diperjalanan, ada segerombolan preman. Mereka menghampiri dan menggoda bintang.
Bintang merasa takut, ia mempererat tas tentengnya.
” Hai cantik, baru pulang sekolah ya.”
ujar preman tersebut.
” Kok sendiriran aja. Main sama kita yuk.”
ujar yang lain. Bintang hanya diam, dia merasa takut untuk memberontak.
Bintang ditarik oleh preman tersebut.
bintang langsung berteriak dengan kencang. Kali- kali ada yang tak sengaja mendegar.
” Tolong.. tolong..” bintang terus
memberontak.
Tenaga ku sudah habis, bagaimana ini.
Tiba- tiba datang seseorang melumpuhkan
gerombolan preman tersebut. akhirnya gerombolan itu pergi dan meninggalkan
bintang.
” Lemot! Gila apa lu. Tunggu gue, jangan
pulang sendiri. Liat kan, kalo nggak ada gue ntah lu jadi apa nanti.” ujarnya
masih terengah- engah. Ternyata dia itu senja.
” Maaf.” ujarku sambil menahan air mata
yang keluar.
” Huft. Nih.” sambil melemparkan
saputangan.” jangan nangis lagi, gue nggak suka cewek yang cengeng. Ayo pulang,
udah sore.” sambil memalingkan muka dari bintang.
Terima kasih.
***
Sejak
kejadian itu, aku jadi sering pulang bersamanya. Dia takut kalau terjadi
sesuatu seperti kejadian waktu itu.
” Anak cewek itu nggak boleh pulang sore
sendirian. Harus ada cowok yang nemenin, takut ada apa- apa. Apalagi ceweknya
kayak elu, si tin-tin lemot. Emang lu mau kejadian kemarin terulang lagi.”
ujarnya dengan nada sinis. Lagi- lagi aku hanya membalas dengan senyuman.
Oh iya sejak kami berdua mengelola
perpustakaan, sudah banyak siswa yang datang untuk meminjam buku. Aku senang
sekali. Tapi kebanyakan cewek yang meminjam, karena tentu saja ingin bertemu
dengan kakak kelasnya yang tampan. Tapi tetap saja senja cuek bebek. Emang enak.
Hihihi. Jahatnya.
” Hem, ja. Kamu.. ngerasa nggak anak- anak
cewek pada ngeliatin kamu pas lagi baca diperpustakaan.” ujarku saat sedang
jalan berdua sepulang sekolah.
” Yah, gimana lagi ya. Orang ganteng mah
emang banyak penggemarnya. Udah kodratnya.” ujarnya santai sambil melipat kedua
tanganya dikepala.
” Huu.. dasar narsis.” sambil berjalan
tepat disebelah senja. Iya sih aku tahu kamu itu emang ganteng, cuma sifat kamu
aja yang bikin tensi orang naik. Nggak heran adik kelas banyak yang suka sama kamu.
” Biarin, tapi lo suka kan.” sambil jalan
agak kedepan dari bintang.
”Hah. Maaf tadi kamu ngomong apa? Aku
nggak denger, bisa diulangi?” setengah berlari mengejar senja.
” Huft. Dasar tin- tin lemot. Nggak bakal
gue ulang lagi.”
Tadi senja ngomong apa ya? Aku nggak
denger.
” Ah senja, tunggu.”
***
Suatu hari, dihari
minggu pagi. Suasana di toko buku terasa menyenangkan. Bukan karena banyak buku
yang bisa dibaca. Melainkan disebelahku ada senja. Kemarin sore dia mengajakku
pergi ke toko buku. Tau nggak, sampe rumah aku lompat- lompat saking senangnya.
” Bintang, minggu kosong nggak?” ujarnya
suatu hari.
” Minggu? Kosong kok. Emang kenapa?”
” Kita pergi ketoko buku yuk. Kayaknya ada
buku baru yang bisa dibeli.” ujarnya.
Kita? Berarti aku dan senja dong. Huaa..
mau banget.
” Boleh saja.” sambil menutupi senyuman
dengan buku.
” Nanti gue tunggu lu di toko buku. Jangan telat.” Sambil pergi menjauh.
Kok ditoko buku sih. Yah, kirain berangkat
bareng. Yaudah deh nggak apa- apa, yang penting bisa jalan sama senja.
Dan sekarang, aku lagi ditoko buku bareng
dia. Yay, walaupun senja cuek bebek denganku. Yang penting aku senang. Aku
nggak akan melupakanya. Melihat tampang senja untuk yang terakhir kalinya.
” Woi ngelamun aja. Ngeliatin apaan sih.”
” Ngg nggak kok.” ujarku ketangkap basah
sedang memerhatikanya.
” Dasar tin- tin lemot, laper nih. Makan
yuk.” sambil menarik tanganku. Dan aku serasa pergi kesurga. Waa nggak mau
nggak mau. Belum saatnya.
” Tapi bukunya... gimana?”
” Udah, itu nanti aja.” sambil tetap
menarik tanganku dan menggenggam erat. Seperti tak ingin terpisahkan. Aku hanya
tersenyum malu saat semua mata menatap kami.
***
Sebulan sudah aku
dan senja mengelola perpustakaan sekolah. Sekarang saat jam istirahat ramai
anak- anak pergi keperpustakaan. Aku sampai kewalahan mencatat buku yang
dipinjam dan yang dikembalikan. Tapi untung ada senja, dia mau membantu walau masih pakai acara paksaan.
” Senja, bantu aku dong mengembalikan buku
ini ke rak.” pintaku suatu hari. Saking banyaknya anak yang meminjam dan
mangambalikan buku. pertama- tama senja hanya melihat buku tersebut, tapi
kemudian dia mengambil buku tersebut dan pergi ke barisan rak. Aku memandangnya
dengan senyuman manis.
Waktu
pun terus berlanjut. Aku dan senja semakin dekat. Aku senang berada di
dekatnya. Terasa aman dan nyaman. Aku tak tahu apa jadinya bila aku tak ada
nanti. Pasti aku akan merindukan saat- saat seperti ini.
” Woi, ngelamun aja.” suara ngebass senja
mengaggetkanku.
” Ah nggak juga.”
” Oh iya. Lu laper nggak, gue kekenyangan
nih. Buat lu aja nih.” sambil memberikan kotak bekalnya. Aku memandang senja
dengan alis terangkat satu.
” Apa. Gue cuma iseng lagi bawa. Kenapa,
nggak suka. Yaudah sini balikin.” sambil ingin merebut kotak bekal dari tangan
ku. Tapi aku menyembunyikanya di belakang punggungku.
” Enak aja, ini kan udah kamu kasih ke
aku. Barang yang udah dikasihin nggak boleh diambil lagi. Pamali kata orang
mah.”
” Yaudah terserah, gue mau baca buku aja
di pojok. Heh diperpustakaan kan nggak boleh makan.” lalu pergi menuju pojok
ruangan. Aku keluar menuju bangku bawah.
Aku membuka kotak
bekal itu, isinya masih utuh. Ternyata dia boong soal iseng membuatnya, padahal
mah senggaja bikin buat aku. Aduh, jadi geer gini sih. Udahlah bintang nggak
usah tinggi- tinggi ngayalnya. Dari atas senja melihat tingkah laku bintang
yang senyam- senyum sendiri, senja hanya menatap dengan ekspresi tanpa arti.
***
” Aduh, senja dimana sih. Dari tadi aku
cariin keliling sekolah nggak ada, ketaman apalagi. Diperpus juga kosong. Kemana
ya.” sambil terus melirik kanan dan kiri.
Padahal aku
bawain dia nasi goreng bikinan aku sendiri. Pagi- pagi sekali aku buatin nasi goreng ini buat
dia. Ini sebagai tanda terima kasih atas bekal kemarin. Suka nggak ya dia.
Aduh, jadi ngebayangin yang enggak- enggak nih. Hihihi.
Ketika
jalan melewati ruang guru. Ternyata ada bu Sri dan senja. Mereka sepertinya
membicarakan sesuatu yang serius. Ah itu dia, dicari kemana- mana tahunya
disini. Tunggu bentar ah.
” Bu, kayaknya saya nggak bisa terus- terusan
kayak gini. Nggak bisa pura- pura sok baik sama bintang.” ujar senja.
” Kenapa? Apakah tugas ini terlalu berat
buat kamu. Ibu minta tolong sama kamu, ja. Tolong jaga bintang. Untuk sekali
ini ja, sekali ini.” mohon bu Sri sambil memegang kedua tangan senja. Mendengar
nama bintang disebut- sebut tak sengaja bintang menguping pembicaraan senja dan
bu Sri.
” Tapi, bu.”
” Senja, ibu tahu kamu merasa terbebani.
Tapi ibu mohon sama kamu.”
Bukan itu,bu. Senja nggak mau bintang
makin sakit sama kelakuan senja yang dibuat- buat ini. Senja nggak mungkin
bakalan terus- terusan ngeboongin bintang.
” Baiklah,bu. Kalo ini memang yang terbaik
buat dia. Akan saya lakukan sampai batas kemampuan saya.” brakk. kotak bekal
jatuh begitu saja dari tangan bintang. Dia berlari, dan meninggalkan kotak
bekalnya di lantai.
” Terima kasih ya, nak senja.” senja hanya
mengangguk. Dan pergi menuju pintu keluar. Betapa kagetnya dia mendapati ada
kotak bekal didekat pintu keluar.
Kotak bekal siapa?
Kayaknya kenal. Ini kan kotak bekal gue yang gue kasih ke bintang. Nasi goreng?
...Bintang!! Senja berlari mengelilingi sekolah mencari bintang, sambil terus
menggenggam erat kotak bekalnya.
Dia denger
pembicaraan gue sama bu Sri. Shit! Bodohnya gue ngomong kayak gitu. Seharusnya
gue nggak usah bilang. Bintang,
gue mohon, lu dimana. Oh iya, taman itu.
Benar saja, saat
senja ke taman belakang sekolah. Ada bintang yang sedang menangis dibangku
pojok taman. Kerudungnya sudah penuh dengan air mata. Senja menghampiri bintang
dengan hati- hati.
” Bintang..” sambil duduk di samping
bintang.
” Aku nggak butuh belas kasihan dari mu.”
ujarnya ketus. Tanpa sedikit pun menatap kearah gue.
” Bintang..”
” Apa. Aku ini bukan pengemis yang perlu
dikasihani oleh mu. Aku nggak butuh belas kasihan dari mu.”
” Bintang..”
” Aku udah tahu semuanya. Nggak ada yang
perlu kamu jelasin aku sudah tahu semuanya.”
” Maaf..”
Aku nggak nyangka, ja. Kamu bisa nyakitin
aku, kamu bisa ngeboongin aku kayak gini. Aku sakit, ja. Sakit.
” Maaf, bin. Dulu emang gue ngelakuinya karena
tugas. Tapi sekarang beda. Lama- lama sama
lo, ada yang lain dari lo. Nggak tahu kenapa gue seneng di deket lo.”
” Alah, bulshit lo! Udah deh, nggak usah
dijelasin lagi. gue udah tahu kebusukan lo.” sambil berlari meninggalkan senja, tapi
sebelum itu dia menumpahkan nasi goreng yang sudah dia buat dari subuh.
” Gue nggak sudi lu makan nasi goreng
buatan gue.” dan pergi berlalu.
Bintang. Gue tahu gue salah, gue
emang pantes dicacimaki. Shit! Argh. Jadi kacau kayak gini sih. Senja menjambak rambutnya dengan kuat.
Bintang.
***
Dua
hari sejak kejadian itu. Bintang jadi jarang masuk kesekolah. Senja sendiri
bingung kenapa bintang jadi jarang pergi kesekolah. Dia bertanya ke teman-
temanya bintang, tapi tidak ada yang tahu kemana bintang.
Seminggu
pun berlalu. Tak ada kabar satu pun dari dia. Perpustakaan menjadi terbengkalai
sejak bintang tidak ada. Senja duduk di kursi tempat biasa bintang duduki. Dia
teringat tawanya, senyumnya, marahnya, tangisnya. Ah jadi inget kejadian itu
lagi.
Eh bintang, lu tahu nggak kenapa gue
sering manggil lu tin- tin. Soalnya lu emang mirip kayak tin- tin. Pintar dan
banyak akal. Tapi terkadang jail dan pemarah. Gue suka sama tokoh tin- tin. Sesuka gue sama lo.
Pintu
perpustakaan terbuka. Seseorang masuk kedalam ruangan.
” Woi, baca pengumuman di depan nggak sih.
Perpustakaan tutup.”
Seorang wanita sekitar umur empat puluhan,
cantik. Mendatangi senja yang duduk dikursi pojok ruangan.
” Maaf, kamu yang namanya Senja Utama ya.”
” Iya.
Ada apa ya?” kayaknya pernah lihat, siapa ya?
” Saya Annisa, ibunya bintang. kamu kenal
bintang kan.” pantas kenal, mirip bintang. Sama- sama cantik.
” Iya, saya kenal dengan bintang. Ada apa
ya, kok dia jadi jarang masuk.”
” Bisa ikut tante sebentar.”
” Kemana, tante.”
Senja mengikuti
langkah tante nissa hingga tiba dipintu mobil. Senja bertanya- tanya mau dibawa
kemana dia. Rasa penasaran melandanya tapi rasa khawatir semakin terasa.
Dan kini senja
berdiri didepan sebuah gundukan tanah yang masih basah. Senja membaca nama yang
tertera di batu nisan tersebut. Bintang malam. Itu namanya bintang, seketika badan
senja menjadi lemas. Dan ambruk, dia berdiri dengan kaki ditekuk kebelakang.
Seminggu gue
nyariin lo, muter- muter nyari kabar lo. Sekarang apa, sekarang apa yang gue temuin. Gue berhasil nemuin lu, tapi sekarang lo udah
nggak ada. Segitu cepetnya lo masuk ke kehidupan gue, ngewarnain hari- hari
gue. Dan sekarang apa, segitu
cepetnya lu pergi ninggalin gue. Mengubah 180 derajat hidup gue.
Bintang. Kenapa. Kenapa
harus gue yang akhirnya tersakiti. Woi tin- tin lemot. Jawab dong. Kenapa.
Kenapa gue juga yang harus ngerasa sesakit ini.
Gue belum ngucapin
kata terima kasih, terima kasih karena lu mau sabar ngadepin gue, terima kasih
lu mau maafin gue, bikinin nasi goreng buat gue walau pun rasanya terlalu asin.
Dan terima kasih karena lu mau berteman dengan gue.
Maaf. Maaf karena gue selalu nyusahin lo, maaf karena
gue selalu cuek sama lo. Dan
maaf untuk yang waktu itu. Bukan karena gue kasihan sama lo tapi karena gue
emang sayang sama lo.
Tante nissa menghampiri senja, dan
membawanya ke dalam mobil.
” Bintang menderita sakit asma sejak
lahir. Makin lama penyakit ini semakin mengerogoti tubuh bintang. Dia sulit
bernafas kalau kecapean dan memikirkan hal- hal yang berat. ”
” Seminggu yang lalu asmanya kambuh lagi.
kami sekeluarga membawanya pergi kedokter dan dirawat selam 3 hari. Hari
keempat dia merasa dadanya sangat sesak, ternyata ada penyempitan di saluran
pernafasanya. Dokter segera melakukan pemeriksaan dan beberapa menit kemudian dia
tidak tertolong.” Senja tak dapat menahan air matanya. Dia
merasa bersalah terhadap bintang.
” Oh iya, ada surat yang dititipkan
bintang. Sehari sebelum dia pergi. Sepertinya dia tahu hidupnya tidak lama
lagi.” sambil menyerahkan surat tersebut.
Senja menerima surat itu dengan jantung
berdebar- debar. Surat bergambar pemandangan senja yang indah. Perlahan- lahan
senja membuka surat itu dan mulai membacanya.
Senja
utama..
Hai senja, lama kita tak berjumpa. J Kau sehat- sehat saja kan. Semoga saja kau
sehat- sehat saja. Karena aku akan selalu mendoakan kamu.
Mungkin saat kamu nerima surat ini, aku sudah tidak ada disisi kamu. Aku nggak mau bikin kamu
sedih. Aku maunya kamu bahagia. Karena aku sudah nggak akan ngerepotin kamu
lagi, nggak bikin susah kamu lagi, nggak bikin kamu marah- marah lagi.
Dengan perginya aku kamu akan bebas seperti burung,
itu kan yang kamu idam- idamkan. Pergi jauh dari aku. Aku udah terlalu ngerepotin kamu, jadi aku mau
berterima kasih sama kamu buat semuanya. Ya semuanya yang udah kamu kasih buat
aku. Kasih sayang, perhatian,semuanya.
Sekalian aku mau minta maaf, maaf aku ngomong
kasar sama kamu. Aku seharusnya nggak ngomong kayak gitu, bener deh sampe rumah
aku ngerasa bersalah sama kamu. Kita pisahnya nggak enak banget sih, pas kita
berantem ngeributin hal sepele kayak gitu. Tapi kamu mau kan maafin aku. Maafin
ya. Hehehe.
Aku mau jujur sama kamu, saat pertama kali aku
lihat kamu di taman itu. Aku tahu aku suka sama kamu. Aku seneng banget pas
kamu jadi pengelola perpus bareng aku. Kita jadi sering bareng. J aku nggak butuh jawaban mu, karena aku
sekarang sudah pergi ninggalin kamu. Maaf..
Semua kenangan sama kamu nggak akan pernah aku
lupain. <3 thanks.
Bintang malam.
Gue remas surat tersebut, ada bekas
tetesan air mata dikertas tersebut. Lagi- lagi aku bikin bintang menangis. Gue
tertunduk di belakang kursi pengemudi. Bintang.. gue juga suka lo, gue sayang
sama lo.
***
[ bukan ] epilog
Sudahlah, aku tak mau menceritakanya lagi.
toh sudah setahun bintang pergi. Dia juga sudah bahagia di sana. Aku tak
diperlukanya lagi.
Dan lupakan itu nazar, karena bintang
sampai kapan pun tak akan pernah kembali pada ku. Dia sudah ada disisinya, mana
mungkin akan kembali kesini. Walaupun begitu aku akan tetap menantinya.
Memang kata orang menggapai bintang itu
sulit, sama seperti melompati bulan. Sama- sama perlu memakai akal.
Sampai kapan pun, aku tak akan pernah bisa
menggapai bintang. Walaupun sudah kau sewa pesawat paling canggih pun. Kau tak akan bisa menggapai bintang,
karena itu adalah mustahil.
Sama sepertiku, mustahil menggapai bintang
malam. Karena aku tetap akan melanjutkan hidup ku. Karena bintang selalu
menjadi bintang paling terang dihatiku. Tak akan pernah redup karena aku selalu
mengisinya dengan cinta seorang senja.
Dari pada berlarut- larut lebih baik aku
pulang saja. Aku sudah cukup untuk mengenangnya dihati ini saja. Terima kasih
malam sudah mau mendengarkan kisah yang membosankan ini.
Tentang cinta pertama yang tak
pernah sampai ini. Tentang cinta pertama seorang anak bau kencur kepada temanya
sendiri. Tentang cinta pertama yang langsung ditinggal pergi. Tentang cinta
pertama yang terlalu berlarut- larut. Dan tentang cinta pertama yang tak pernah tersampaikan.
Aku memperketat jaket merahku dan turun
menuruni bukit, sambil mendengarkan lagu dari mp3 ku. Lagu untuk bintang.
Malam yang indah kau
ada sini..
Mengisi kosongku
dan berkata sayang..
Tak pernah kuragu
hanya dirinya satu..
Tak pernah kuragu
cerita cintaku..
Oh bintang bintang
bawalah aku terbang tinggi..
Bersamanya karena
dia yang aku mau..
Bintang bintang
kabulkan permohonan ku..
Vierra<bintang>
[sudahlah sebaiknya kita
tamatkan saja]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar