Selasa, 25 Maret 2014

Menggapai Bintang- Everybody has a secret

SINOPSIS

Aku bukanlah siapa- siapa. Sampai aku bertemu dengan Bintang. Seorang cewek yang sangat menyebalkan dan merepotkan.

Aku bertemu dengannya di taman sekolah, saat dia menduduki tempat favorit ku. Akhirnya aku bertengkar denganya. Dan dia adalah orang pertama yang paling aku benci.

Belum ada 24 jam, aku sudah dipertemukan lagi denganya. Mengurus perpustakaan denganya?!  ya ampun, mimpi apa aku semalam. Sehari saja baru ketemu langsung ngajak ribut, gimana kalo berbulan- bulan?!. Dan parahnya, aku disuruh menjaganya. Dikira aku bodyguardnya apa. CK.

Hari- hari bersamanya terasa berada di neraka. Gimana enggak AC diperpus aja rusak. Biar saja dia yang repot mengurusi ini dan itu. Masa bodo dengannya. Biar tahu rasa.

            Semakin lama aku bersamanya, ada sesuatu rasa lain dalam benakku. Mungkin kalian sudah bisa menebaknya. Tapi sebelum aku menyatakan dia sudah menghilang. Entah dia pergi kemana, sejak pertengkaran kami waktu itu.

Aku Cuma ingin menyampaikan isi hatiku, tolong kau dengarkan baik- baik. karena aku tak akan mengulangnya untuk yang kedua kali.

Bintang malam dengarkan hatiku..

Aku ingin melukis sinarmu dihatiku..

Embun pagi katakan padanya..

Izinkanku ungkap segenap rasa yang membelenggunya..

Kerispatih<lagurindu>

            Penantian yang mungkin akan menjadi sia- sia.


prolog

            Aku berdiri memandangi langit malam. Saat itu hanya tinggal malam yang mau menemaniku berbicara. Hanya tinggal malam yang mau mendengarkan kisahku. Dan hanya tinggal malam yang mau menemaniku hingga aku bosan untuk berbicara.

            Aku punya cerita yang akan aku bagi untuk malam. Hanya sebuah kisah sederhana, kalau ini bisa disebut sebuah kisah. Aku duduk di atas bukit, agar aku bisa memandang malam lebih dekat.

            Angin malam sudah semakin menusuk kulit. Tapi aku tak peduli, aku tak mau pulang kerumah. Percuma, tak ada satu anggota keluargapun yang peduli padaku.

            Jadi aku memilih untuk memberikan sebuah kisah untuk malam. Aku akan menceritakan sebuah kisah untuk malam. Jika malam suka dengan kisahku, biarkan Bintang kembali padaku. Tapi, apabila malam tak suka dengan kisahku. Aku rela Bintang pergi denganmu. Itu nazarku untuk Bintang.
***
           














Aku memandangi tampang diriku didepan cermin. Aku telah selesai membereskan seragam putih- biruku. Dan aku siap untuk pergi ke sekolah.
           
Sekolahku tidak jauh dari rumah. Cukup naik satu kali angkot. Sekolahku tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil. Cukuplah untuk menampung 630 siswa dengan masing- masing kelas 35 siswa.

            Sekolahku adalah sekolah terbaik di  daerah tempat tinggalku. Hanya orang beruntung seperti diriku ini yang bisa masuk disekolah ini. Dan hanya orang pintar yang dapat masuk kesekolah ini. Ya seperti diriku ini. Hehehe.

            Sekolah dengan fasilitas yang lumayan lengkap, seperti lab. Komputer, lab. IPA, lab. Bahasa, lapangan, perpustakaan online, dan sebagainya. Aku senang berada di taman sekolah, sambil menunggu bel masuk.

            Waktu menunjukan pukul 06.30. Aku telah sampai disekolah. Saat itu masih terlalu sedikit murid yang masuk. Biasanya jam- jam segini aku sering pergi ketaman belakang. Disana aku bisa membaca buku dengan tenang.
           
Taman sekolahku sangat rimbun dengan pohon, jadi kalau pagi rasanya sejuk disana. Aku duduk disalah satu bangku taman dipojok. Tempatnya strategis, karena terletak diantara sudut taman.
           
Ketika sedang asyik membaca, tiba- tiba jantungku berdenyut cepat. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Ternyata ”dia” berdiri didepanku. Aku kaget tidak menyangka aku bisa sedekat ini dengan dia.

”Minggir, itu tempat duduk gue.” ujarnya ketus. Aku menaikan satu alisku.
” Denger nggak sih, minggir. Gue mau duduk.”
”Kalo mau duduk kan masih ada tempat yang kosong. Tuh disana kosong.” sambil menunjuk bangku yang disebelahnya.
” Tapi, gue maunya disini.”
” Tapi aku duluan yang disini.” ujarku nggak mau kalah.
” Tapi, gue maunya disini!” aku kaget, yaiyalah jelas aja dia sampe ngebentak gitu.
” Aku nggak peduli. Kan aku duluan yang disini.”
”Lu nyebelin banget sih.”
” Kamu juga nyebelin, 2 kali nyebelin dari pada aku. Wek.”
” Udah deh nggak usah pake aku- kamu segala. Basi tauk nggak.”
” Bodo. Wek.”
” Lu tuh ya.” sambil siap memukul.
” Apa. Mau mukul aku. Pukul nih, mau bagian yang mana. Nih pukul kalo berani.” sambil memajukan wajahnya. Otomatis ”dia” tidak jadi memukul. Orang ditantangin kayak gitu.
” Kalian ini ada apa sih, pagi- pagi kok berantem. Tadi ibu lihat Senja mau mukul kamu ya.” ujar bu Ratri yang melihat pertengkaran tadi.

” Enggak kok bu. Bintang sama Senja Cuma lagi...”
”Latihan akting bu.” ujar senja. Bintang hanya memandang Senja dengan tanda tanya besar.
”Oh. Yaudah kalo begitu. Tapi jangan lupa bentar lagi bel.”
” Iya, bu.” ujar mereka bersamaan.
” Gue nggak punya utang terima kasih sama lo.” ujar Senja sambil pergi meninggalkan Bintang.
Bintang hanya tersenyum.” sama- sama, aku yakin suatu saat nanti kamu akan bilang terima kasih untukku. sekarang aku sudah memberi jawabanya.”

***
            Namaku bintang. Aku ini hanya seorang gadis berkerudung yang selalu membutuhkan orang lain. Aku ini hanya gadis berkerudung biasa seperti halnya anak- anak lain. Yang membedakanku dengan yang lain adalah imanku dan agamaku. Aku ini hanya gadis berkerudung yang selalu patuh pada aturan norma yang berlaku. Dan sekali lagi aku adalah gadis berkerudung yang tak mau berbuat macam- macam.

 Singkatnya aku ini gadis berkerudung yang baik- baik. Tidak pernah mencoba untuk merokok, mabuk- mabukan, dan bahkan masuk kedalam pergaulan bebas.

            Lain halnya dengan Senja utama, yah memang namanya seperti nama kereta malam. Memang aneh si kedengaranya. Tapi, aku senang melihatnya. Rambutnya yang cepak dan badanya yang tinggi, juga berwajah tampan. Tak heran banyak adik kelas yang menyukainya. Termasuk diriku. Hehehe. Tapi sifatnya, yah tahu sendirikan tadi gimana dia. Pantas saja dia tak punya teman, padahal kan banyak yang mau berteman dengan dia.

            Aku sering melihat dia duduk sendiri di bangku taman. Melihat ekpsresinya saat dia sedang hanyut kedalam imajinasinya. Melihat emosinya saat dia merasa jengkel dengan tokoh dalam buku. Dan juga kesenangan yang ia dapatkan ketika membaca buku. Semua ku suka, tapi tidak dengan sifatnya. Hehehe.

            Sungguh dia adalah cowok yang manis,  tapi sayang sifatnya dia yang membuat orang enggan untuk berteman. Seharusnya diakhir masa SMP nya dia harus membuat kenangan indah bersama temanya. Tapi kalo orangya tidak mau berteman sih ya apa boleh buat.
” Bintang, kamu dipanggil sama bu Sri. Disuruh kekantor.” ujar Nazwa.
” Oh. Yaudah makasih ya, Wa,”
Ada apa ya aku dipanggil sama bu Sri.

            Sesampainya diruang guru. Ternyata bukan hanya aku yang dipanggil, ada satu anak lagi yang telah berdiri didepan meja bu Sri. Ketika memasuki ruangan, rasa senang dan rasa jengkel jadi satu.

” Lo lagi- lo lagi.”ujarnya yang ternyata dia adalah senja.
” Kamu lagi- kamu lagi.” Ujar mereka bersamaan. Belum ada 24 jam, sudah ketemu lagi. Memang jodoh nggak kemana. Hadeh.
“ Kalian sudah saling kenal. Kalo begitu ibu jadi tidak usah ribet mempersatukan kalian.”
Apanya yang mempersatukan bu.
” Maksudnya.” ujarku tidak mengerti.
”Udahlah bu nggak usah dijelasin. Si tin- tin satu ini emang rada lemot.” dengan senyum sinis mengembang, aku hanya memajukan bibir sambil terus mencibir.
” Sudah- sudah. Gini loh nak Bintang, ibu minta kamu sama nak Senja untuk mengelola perpustakaan sekolah. Ini semua dari suara guru- guru disini. Demi memajukan minat baca anak- anak, sekolah akan menanggung semua biaya yang dikeluarkan. Mau kan?”
” Ngg gimana ya bu.”
” Bilang aja nggak. Susah banget sih.” aku balas mencibir.
Bikin jengkel aja sih ni anak.
” Tentu saja iya. Demi memajukan minat baca anak- anak.”  dengan penekanan dikata memajukan. Kini yang terlihat diwajah Senja hanya tatap kosong tanpa arti.
Bodo amat emang aku pikirin.

***
           
Hari pertama aku dan senja mengelola perpustakaan. Banyak sekali buku yang harus dipindahkan dari kardus ke rak. Aku menutupi hidungku dengan masker. Agar debu- debu tidak terhirup olehku. Sedangkan senja hanya duduk diatas salah satu kardus dan asik membaca buku. Aku menatapnya dengan sinis, dan dibalas lebih sinis lagi olehnya. Aku hanya mencibir.
            Aku melanjutkan kembali membersihkan debu diatas rak. Tak sengaja aku menghirup debu. Sehingga aku jadi terbatuk- batuk.

”Uhuk ukhuk uhuk.” sambil memegangi dada.
” Makanya kalo bersih- bersih itu yang bener.” ujar senja sambil tetap membaca. Tapi seketika bintang ambruk sambil terbatuk- batuk.
” Woi, lu kenapa?” sambil memandangi bintang dengan khawatir, tapi tentu saja tidak diperlihatkan secara langsung.
” Uhuk uhuk uhkhuk.” kerudungku seakan menyempitkan pernafasanku, rasanya sesak sekali di dada.
Ya allah, jangan sekarang. Kumohon jangan sekarang ya allah. Doaku dalam hati.
” Tunggu, gue panggil guru dulu.”
Mana bisa nunggu. Dodol.
***

            Tiga hari setelah kejadian waktu itu. Senja jadi baik sama aku. Dia
 nggak suka ngomong kasar lagi, tapi terkadang emosinya sulit dikontrol.

            Ketika aku mengangkat beberapa buku untuk diletakan kembali ke rak. Tanpa disuruh dia mau membantu membawakan beberapa buku. Aku nggak ngerti kenapa dia bisa jadi baik sama aku. Tapi dilain sisi aku senang dia mau berubah.

” Sini gue aja yang bawa, emang gue cowok apaan nggak bisa bawa barang segini.” ujarnya dengan tampang sinis. Aku hanya tersenyum, dan membiarkan dia merebut buku- buku itu dengan kasar. Tapi aku tahu dia punya niat untuk membantu, tetapi bingung untuk memulai.

***

Aku berdiri di depan gerbang sekolah. Menunggu senja yang tak kunjung datang. Padahal sudah lebih dari lima belas menit dia pergi kekamar mandi. Mana hari sudah makin sore. Aduh senja, kamu kemana sih.

” Senja, cepetan dong. Aku udah mati kering nih disini.”

Tapi senja tidak datang juga. Yaudah deh aku pulang sendiri aja. Emang aku nggak bisa pulang sendiri apa. Biasanya juga pulang sendiri.

            Ketika diperjalanan, ada segerombolan preman. Mereka menghampiri dan menggoda bintang. Bintang merasa takut, ia mempererat tas tentengnya.

” Hai cantik, baru pulang sekolah ya.” ujar preman tersebut.
” Kok sendiriran aja. Main sama kita yuk.” ujar yang lain. Bintang hanya diam, dia merasa takut untuk memberontak.

Bintang ditarik oleh preman tersebut. bintang langsung berteriak dengan kencang. Kali- kali ada yang tak sengaja mendegar.

” Tolong.. tolong..” bintang terus memberontak.
Tenaga ku sudah habis, bagaimana ini.
Tiba- tiba datang seseorang melumpuhkan gerombolan preman tersebut. akhirnya gerombolan itu pergi dan meninggalkan bintang.

” Lemot! Gila apa lu. Tunggu gue, jangan pulang sendiri. Liat kan, kalo nggak ada gue ntah lu jadi apa nanti.” ujarnya masih terengah- engah. Ternyata dia itu senja.
” Maaf.” ujarku sambil menahan air mata yang keluar.
” Huft. Nih.” sambil melemparkan saputangan.” jangan nangis lagi, gue nggak suka cewek yang cengeng. Ayo pulang, udah sore.” sambil memalingkan muka dari bintang.

Terima kasih.

***

            Sejak kejadian itu, aku jadi sering pulang bersamanya. Dia takut kalau terjadi sesuatu seperti kejadian waktu itu.

” Anak cewek itu nggak boleh pulang sore sendirian. Harus ada cowok yang nemenin, takut ada apa- apa. Apalagi ceweknya kayak elu, si tin-tin lemot. Emang lu mau kejadian kemarin terulang lagi.” ujarnya dengan nada sinis. Lagi- lagi aku hanya membalas dengan senyuman.

 Oh iya sejak kami berdua mengelola perpustakaan, sudah banyak siswa yang datang untuk meminjam buku. Aku senang sekali. Tapi kebanyakan cewek yang meminjam, karena tentu saja ingin bertemu dengan kakak kelasnya yang tampan. Tapi tetap saja senja cuek bebek. Emang enak. Hihihi. Jahatnya.

” Hem, ja. Kamu.. ngerasa nggak anak- anak cewek pada ngeliatin kamu pas lagi baca diperpustakaan.” ujarku saat sedang jalan berdua sepulang sekolah.
” Yah, gimana lagi ya. Orang ganteng mah emang banyak penggemarnya. Udah kodratnya.” ujarnya santai sambil melipat kedua tanganya dikepala.
” Huu.. dasar narsis.” sambil berjalan tepat disebelah senja. Iya sih aku tahu kamu itu emang ganteng, cuma sifat kamu aja yang bikin tensi orang naik. Nggak heran adik kelas banyak yang suka sama kamu.
” Biarin, tapi lo suka kan.” sambil jalan agak kedepan dari bintang.
”Hah. Maaf tadi kamu ngomong apa? Aku nggak denger, bisa diulangi?” setengah berlari mengejar senja.
” Huft. Dasar tin- tin lemot. Nggak bakal gue ulang lagi.”
Tadi senja ngomong apa ya? Aku nggak denger.
” Ah senja, tunggu.”

***

Suatu hari, dihari minggu pagi. Suasana di toko buku terasa menyenangkan. Bukan karena banyak buku yang bisa dibaca. Melainkan disebelahku ada senja. Kemarin sore dia mengajakku pergi ke toko buku. Tau nggak, sampe rumah aku lompat- lompat saking senangnya.

” Bintang, minggu kosong nggak?” ujarnya suatu hari.
” Minggu? Kosong kok. Emang kenapa?”
” Kita pergi ketoko buku yuk. Kayaknya ada buku baru yang bisa dibeli.” ujarnya.
Kita? Berarti aku dan senja dong. Huaa.. mau banget.
” Boleh saja.” sambil menutupi senyuman dengan buku.
” Nanti gue tunggu lu di toko buku. Jangan telat.” Sambil pergi menjauh.
Kok ditoko buku sih. Yah, kirain berangkat bareng. Yaudah deh nggak apa- apa, yang penting bisa jalan sama senja.
Dan sekarang, aku lagi ditoko buku bareng dia. Yay, walaupun senja cuek bebek denganku. Yang penting aku senang. Aku nggak akan melupakanya. Melihat tampang senja untuk yang terakhir kalinya.
” Woi ngelamun aja. Ngeliatin apaan sih.”
” Ngg nggak kok.” ujarku ketangkap basah sedang memerhatikanya.
” Dasar tin- tin lemot, laper nih. Makan yuk.” sambil menarik tanganku. Dan aku serasa pergi kesurga. Waa nggak mau nggak mau. Belum saatnya.
” Tapi bukunya... gimana?”
” Udah, itu nanti aja.” sambil tetap menarik tanganku dan menggenggam erat. Seperti tak ingin terpisahkan. Aku hanya tersenyum malu saat semua mata menatap kami.

***
           
Sebulan sudah aku dan senja mengelola perpustakaan sekolah. Sekarang saat jam istirahat ramai anak- anak pergi keperpustakaan. Aku sampai kewalahan mencatat buku yang dipinjam dan yang dikembalikan. Tapi untung ada senja, dia mau membantu walau masih pakai acara paksaan.

” Senja, bantu aku dong mengembalikan buku ini ke rak.” pintaku suatu hari. Saking banyaknya anak yang meminjam dan mangambalikan buku. pertama- tama senja hanya melihat buku tersebut, tapi kemudian dia mengambil buku tersebut dan pergi ke barisan rak. Aku memandangnya dengan senyuman manis.

            Waktu pun terus berlanjut. Aku dan senja semakin dekat. Aku senang berada di dekatnya. Terasa aman dan nyaman. Aku tak tahu apa jadinya bila aku tak ada nanti. Pasti aku akan merindukan saat- saat seperti ini.

” Woi, ngelamun aja.” suara ngebass senja mengaggetkanku.
” Ah nggak juga.”
” Oh iya. Lu laper nggak, gue kekenyangan nih. Buat lu aja nih.” sambil memberikan kotak bekalnya. Aku memandang senja dengan alis terangkat satu.
” Apa. Gue cuma iseng lagi bawa. Kenapa, nggak suka. Yaudah sini balikin.” sambil ingin merebut kotak bekal dari tangan ku. Tapi aku menyembunyikanya di belakang punggungku.
” Enak aja, ini kan udah kamu kasih ke aku. Barang yang udah dikasihin nggak boleh diambil lagi. Pamali kata orang mah.”
” Yaudah terserah, gue mau baca buku aja di pojok. Heh diperpustakaan kan nggak boleh makan.” lalu pergi menuju pojok ruangan. Aku keluar menuju bangku bawah.

Aku membuka kotak bekal itu, isinya masih utuh. Ternyata dia boong soal iseng membuatnya, padahal mah senggaja bikin buat aku. Aduh, jadi geer gini sih. Udahlah bintang nggak usah tinggi- tinggi ngayalnya. Dari atas senja melihat tingkah laku bintang yang senyam- senyum sendiri, senja hanya menatap dengan ekspresi tanpa arti.

***

” Aduh, senja dimana sih. Dari tadi aku cariin keliling sekolah nggak ada, ketaman apalagi. Diperpus juga kosong. Kemana ya.” sambil terus melirik kanan dan kiri.

Padahal aku bawain dia nasi goreng bikinan aku sendiri. Pagi- pagi sekali aku buatin nasi goreng ini buat dia. Ini sebagai tanda terima kasih atas bekal kemarin. Suka nggak ya dia. Aduh, jadi ngebayangin yang enggak- enggak nih. Hihihi.

            Ketika jalan melewati ruang guru. Ternyata ada bu Sri dan senja. Mereka sepertinya membicarakan sesuatu yang serius. Ah itu dia, dicari kemana- mana tahunya disini. Tunggu bentar ah.

” Bu, kayaknya saya nggak bisa terus- terusan kayak gini. Nggak bisa pura- pura sok baik sama bintang.” ujar senja.
” Kenapa? Apakah tugas ini terlalu berat buat kamu. Ibu minta tolong sama kamu, ja. Tolong jaga bintang. Untuk sekali ini ja, sekali ini.” mohon bu Sri sambil memegang kedua tangan senja. Mendengar nama bintang disebut- sebut tak sengaja bintang menguping pembicaraan senja dan bu Sri.
” Tapi, bu.”
” Senja, ibu tahu kamu merasa terbebani. Tapi ibu mohon sama kamu.”
Bukan itu,bu. Senja nggak mau bintang makin sakit sama kelakuan senja yang dibuat- buat ini. Senja nggak mungkin bakalan terus- terusan ngeboongin bintang.
” Baiklah,bu. Kalo ini memang yang terbaik buat dia. Akan saya lakukan sampai batas kemampuan saya.” brakk. kotak bekal jatuh begitu saja dari tangan bintang. Dia berlari, dan meninggalkan kotak bekalnya di lantai.
” Terima kasih ya, nak senja.” senja hanya mengangguk. Dan pergi menuju pintu keluar. Betapa kagetnya dia mendapati ada kotak bekal didekat pintu keluar.

Kotak bekal siapa? Kayaknya kenal. Ini kan kotak bekal gue yang gue kasih ke bintang. Nasi goreng? ...Bintang!! Senja berlari mengelilingi sekolah mencari bintang, sambil terus menggenggam erat kotak bekalnya.

Dia denger pembicaraan gue sama bu Sri. Shit! Bodohnya gue ngomong kayak gitu. Seharusnya gue nggak usah bilang. Bintang, gue mohon, lu dimana. Oh iya, taman itu.

Benar saja, saat senja ke taman belakang sekolah. Ada bintang yang sedang menangis dibangku pojok taman. Kerudungnya sudah penuh dengan air mata. Senja menghampiri bintang dengan hati- hati.

” Bintang..” sambil duduk di samping bintang.
” Aku nggak butuh belas kasihan dari mu.” ujarnya ketus. Tanpa sedikit pun menatap kearah gue.
” Bintang..”
” Apa. Aku ini bukan pengemis yang perlu dikasihani oleh mu. Aku nggak butuh belas kasihan dari mu.”
” Bintang..”
” Aku udah tahu semuanya. Nggak ada yang perlu kamu jelasin aku sudah tahu semuanya.”
” Maaf..”

Aku nggak nyangka, ja. Kamu bisa nyakitin aku, kamu bisa ngeboongin aku kayak gini. Aku sakit, ja. Sakit.

” Maaf, bin. Dulu emang gue ngelakuinya karena tugas. Tapi sekarang beda. Lama- lama  sama lo, ada yang lain dari lo. Nggak tahu kenapa gue seneng di deket lo.”
” Alah, bulshit lo! Udah deh, nggak usah dijelasin lagi. gue udah tahu kebusukan lo.”  sambil berlari meninggalkan senja, tapi sebelum itu dia menumpahkan nasi goreng yang sudah dia buat dari subuh.
” Gue nggak sudi lu makan nasi goreng buatan gue.” dan pergi berlalu.

Bintang. Gue tahu gue salah, gue emang pantes dicacimaki. Shit! Argh. Jadi kacau kayak gini sih. Senja menjambak rambutnya dengan kuat. Bintang.

***
            Dua hari sejak kejadian itu. Bintang jadi jarang masuk kesekolah. Senja sendiri bingung kenapa bintang jadi jarang pergi kesekolah. Dia bertanya ke teman- temanya bintang, tapi tidak ada yang tahu kemana bintang.

            Seminggu pun berlalu. Tak ada kabar satu pun dari dia. Perpustakaan menjadi terbengkalai sejak bintang tidak ada. Senja duduk di kursi tempat biasa bintang duduki. Dia teringat tawanya, senyumnya, marahnya, tangisnya. Ah jadi inget kejadian itu lagi.

Eh bintang, lu tahu nggak kenapa gue sering manggil lu tin- tin. Soalnya lu emang mirip kayak tin- tin. Pintar dan banyak akal. Tapi terkadang jail dan pemarah. Gue suka sama tokoh tin- tin. Sesuka gue sama lo.

            Pintu perpustakaan terbuka. Seseorang masuk kedalam ruangan.

” Woi, baca pengumuman di depan nggak sih. Perpustakaan tutup.”

Seorang wanita sekitar umur empat puluhan, cantik. Mendatangi senja yang duduk dikursi pojok ruangan.

” Maaf, kamu yang namanya Senja Utama ya.”
”  Iya. Ada apa ya?” kayaknya pernah lihat, siapa ya?
” Saya Annisa, ibunya bintang. kamu kenal bintang kan.” pantas kenal, mirip bintang. Sama- sama cantik.
” Iya, saya kenal dengan bintang. Ada apa ya, kok dia jadi jarang masuk.”
” Bisa ikut tante sebentar.”
” Kemana, tante.”

Senja mengikuti langkah tante nissa hingga tiba dipintu mobil. Senja bertanya- tanya mau dibawa kemana dia. Rasa penasaran melandanya tapi rasa khawatir semakin terasa.

Dan kini senja berdiri didepan sebuah gundukan tanah yang masih basah. Senja membaca nama yang tertera di batu nisan tersebut. Bintang malam. Itu namanya bintang, seketika badan senja menjadi lemas. Dan ambruk, dia berdiri dengan kaki ditekuk kebelakang.

Seminggu gue nyariin lo, muter- muter nyari kabar lo. Sekarang apa, sekarang apa yang gue temuin. Gue berhasil nemuin lu, tapi sekarang lo udah nggak ada. Segitu cepetnya lo masuk ke kehidupan gue, ngewarnain hari- hari gue. Dan sekarang apa, segitu cepetnya lu pergi ninggalin gue. Mengubah 180 derajat hidup gue.

Bintang. Kenapa. Kenapa harus gue yang akhirnya tersakiti. Woi tin- tin lemot. Jawab dong. Kenapa. Kenapa gue juga yang harus ngerasa sesakit ini.

Gue belum ngucapin kata terima kasih, terima kasih karena lu mau sabar ngadepin gue, terima kasih lu mau maafin gue, bikinin nasi goreng buat gue walau pun rasanya terlalu asin. Dan terima kasih karena lu mau berteman dengan gue.

            Maaf. Maaf karena gue selalu nyusahin lo, maaf karena gue selalu cuek sama lo. Dan maaf untuk yang waktu itu. Bukan karena gue kasihan sama lo tapi karena gue emang sayang sama lo.

Tante nissa menghampiri senja, dan membawanya ke dalam mobil.

” Bintang menderita sakit asma sejak lahir. Makin lama penyakit ini semakin mengerogoti tubuh bintang. Dia sulit bernafas kalau kecapean dan memikirkan hal- hal yang berat. ”
” Seminggu yang lalu asmanya kambuh lagi. kami sekeluarga membawanya pergi kedokter dan dirawat selam 3 hari. Hari keempat dia merasa dadanya sangat sesak, ternyata ada penyempitan di saluran pernafasanya. Dokter segera melakukan pemeriksaan dan beberapa menit kemudian dia tidak tertolong.”   Senja tak dapat menahan air matanya. Dia merasa bersalah terhadap bintang.
” Oh iya, ada surat yang dititipkan bintang. Sehari sebelum dia pergi. Sepertinya dia tahu hidupnya tidak lama lagi.” sambil menyerahkan surat tersebut.

Senja menerima surat itu dengan jantung berdebar- debar. Surat bergambar pemandangan senja yang indah. Perlahan- lahan senja membuka surat itu dan mulai membacanya.




Senja utama..

Hai senja, lama kita tak berjumpa. J  Kau sehat- sehat saja kan. Semoga saja kau sehat- sehat saja. Karena aku akan selalu mendoakan kamu.

Mungkin saat kamu nerima surat  ini, aku sudah tidak  ada disisi kamu. Aku nggak mau bikin kamu sedih. Aku maunya kamu bahagia. Karena aku sudah nggak akan ngerepotin kamu lagi, nggak bikin susah kamu lagi, nggak bikin kamu marah- marah lagi.

Dengan perginya aku kamu akan bebas seperti burung, itu kan yang kamu idam- idamkan. Pergi jauh dari aku.  Aku udah terlalu ngerepotin kamu, jadi aku mau berterima kasih sama kamu buat semuanya. Ya semuanya yang udah kamu kasih buat aku. Kasih sayang, perhatian,semuanya.

Sekalian aku mau minta maaf, maaf aku ngomong kasar sama kamu. Aku seharusnya nggak ngomong kayak gitu, bener deh sampe rumah aku ngerasa bersalah sama kamu. Kita pisahnya nggak enak banget sih, pas kita berantem ngeributin hal sepele kayak gitu. Tapi kamu mau kan maafin aku. Maafin ya. Hehehe.

Aku mau jujur sama kamu, saat pertama kali aku lihat kamu di taman itu. Aku tahu aku suka sama kamu. Aku seneng banget pas kamu jadi pengelola perpus bareng aku. Kita jadi sering bareng. J  aku nggak butuh jawaban mu, karena aku sekarang sudah pergi ninggalin kamu. Maaf..

Semua kenangan sama kamu nggak akan pernah aku lupain. <3 thanks.

Bintang malam.






Gue remas surat tersebut, ada bekas tetesan air mata dikertas tersebut. Lagi- lagi aku bikin bintang menangis. Gue tertunduk di belakang kursi pengemudi. Bintang.. gue juga suka lo, gue sayang sama lo.

***

[ bukan ] epilog

Sudahlah, aku tak mau menceritakanya lagi. toh sudah setahun bintang pergi. Dia juga sudah bahagia di sana. Aku tak diperlukanya lagi.

Dan lupakan itu nazar, karena bintang sampai kapan pun tak akan pernah kembali pada ku. Dia sudah ada disisinya, mana mungkin akan kembali kesini. Walaupun begitu aku akan tetap menantinya.

Memang kata orang menggapai bintang itu sulit, sama seperti melompati bulan. Sama- sama perlu memakai akal.

Sampai kapan pun, aku tak akan pernah bisa menggapai bintang. Walaupun sudah kau sewa pesawat paling canggih pun. Kau tak akan bisa menggapai bintang, karena itu adalah mustahil.

Sama sepertiku, mustahil menggapai bintang malam. Karena aku tetap akan melanjutkan hidup ku. Karena bintang selalu menjadi bintang paling terang dihatiku. Tak akan pernah redup karena aku selalu mengisinya dengan cinta seorang senja.

Dari pada berlarut- larut lebih baik aku pulang saja. Aku sudah cukup untuk mengenangnya dihati ini saja. Terima kasih malam sudah mau mendengarkan kisah yang membosankan ini.

 Tentang cinta pertama yang tak pernah sampai ini. Tentang cinta pertama seorang anak bau kencur kepada temanya sendiri. Tentang cinta pertama yang langsung ditinggal pergi. Tentang cinta pertama yang terlalu berlarut- larut. Dan tentang cinta pertama yang tak pernah tersampaikan.

Aku memperketat jaket merahku dan turun menuruni bukit, sambil mendengarkan lagu dari mp3 ku. Lagu untuk bintang.

Malam yang indah kau ada sini..

Mengisi kosongku dan berkata sayang..

Tak pernah kuragu hanya dirinya satu..

Tak pernah kuragu cerita cintaku..

Oh bintang bintang bawalah aku terbang tinggi..

Bersamanya karena dia yang aku mau..

Bintang bintang kabulkan permohonan ku..

Vierra<bintang>

[sudahlah sebaiknya kita tamatkan saja]

  

   








Tidak ada komentar:

Posting Komentar