Selasa, 25 Maret 2014

Show Me the Light

Dia datang, tuhkan aku bilang apa. Dia pasti bakalan datang lagi ke tempat ini. Dengan senyum merekah, aku membenarkan letak kerudungku. Siapa tahu berantakan.

Oh god, sejak kapan aku jadi centil begini. Aku tersipu malu, menutup muka ku dengan sketchbook yang dari tadi ku remas. Sebenarnya niat ku datang ke taman ini untuk mencari inspirasi menggambar, tapi beberapa hari ini ada alasan lain-kau tahulah- yup.. seseorang yang mengubah hariku dengan cahayanya.

Namanya.. sialnya aku belum tau namanya, tapi sebut saja dia “man in light”. Sederhana saja, karena aku suka melihatnya ketika dia sedang memotret. Kau tahu melukis cahaya, ada sesuatu yang begitu menarik darinya.


Jangan kau kira dia tampan ya, tapi menurutku lumayan sih. Lumayan tinggi, lumayan berisi, lumayanlah untuk ukuran umur 18 tahun, dan lumayan membuatku terperangah ketika dia berdiri dibawah sinar matahari sore.

Kau pasti bertanya apakah dia mengenalku? Hoho.. tentu saja TIDAK. Aku baru melihatnya beberapa hari ini, tepatnya 3 hari yang lalu. Seperti biasa menjelang sore hari aku datang kesini, duduk ditepi danau, sendirian. Saat aku menatap sekeliling, entah kenapa mata ku mengarah kepada seorang cowok bertopi merah menenteng kamera DSLR. Dan saat itu juga seperti Edward yang tertimpa sinar matahari dalam film Twilight, dia berhasil membuatku terperangah. Seperti ada aura yang keluar, menarik siapa saja untuk berlama-lama menatapnya.

“Grrrrr…” suara apa itu? Aku mengalihkan tatapanku dari si-man in light. Oh god, siapa yang ngebiarin anjingnya lepas? Mukaku pasti sudah pucat pasi dan sekarang aku hanya bisa diam. Gimana tidak, aku takut sama yang namanya anjing. Dan sialnya sekarang anjing tersebut tepat berada di depanku, siap melahap sketchbookku. Mati-matian aku menarik sketchbookku dari gigitan anjing tersebut.

Help please, ujarku dalam hati.

Tiba-tiba gigitan pada sketchbookku mengendur, ku beranikan untuk melihat apa yang terjadi. Dan dia berdiri tepat didepanku. Aku dapat melihat punggungnya yang membelakangiku, berdiri dengan gagahnya bak pangeran yang menyelamatkan  sang putri. Oh god, apakah aku yang tuli atau memang dunia sedang bersenandung untukku.

Masih dibawah terpaan sinar matahari, laki-laki itu berbalik menatap ku dan berkata “DASAR PAYAH. ” Aku hanya melongo, bukan, bukan karena dia semakin tampan dibawah sinar matahari-tapimemang iya- tapi ada scenario yang salah.  Maksudku bukankah di film-film biasanya sang penyelamat akan bertanya “apakah kau baik-baik saja?” atau “apakah ada yang terluka?”atau menanyakan sesuatu yang romantic? Sepertinya dia salah mengambil scrip yang harus dibaca. Ya ya aku yakin itu.

Kembali ke dunia nyata. Aku berdiri berhadapan denganya, tak kusangka ternyata tinggiku dengannya tak terlalu jauh. Membenarkan letak jilbab dan kerudungku, menatap sinis kearahnya dan pergi meninggalkannya.  Itu sudah meninggalkan kesan menyebalkan, mungkin.

Dan sekarang aku bertemu dengannya lagi, entah dia masih ingat atau sudah melupakkan seorang cewek yang tidak tahu terima kasih ini. Biar saja, siapa suruh dia membuatku tengsin abis.

Tapi, kesan saat pertama kali melihatnya itu tidak pernah hilang. Tetap saja aku menantinya di taman ini, ditemani sejuknya suasana danau dan hangatnya senja. Aduh, sarah sejak kapan kamu jadi senang memerhatikan cowok. Aku tersenyum sendiri, menutupi mukaku dengan sketchbook yang sudah terkena remasan berkali-kali. Pulang ah, kalau semakin lama disini, bisa gila aku.

***

“Tidaaaak… telat lagi!” teriak Sarah sambil berlari keluar rumah. Tapi sayang, BRUUK!! “Aduh!” sepertinya sarah menabrak sesuatu, tepatnya menabrak ‘seseorang’+ ‘sesuatu’.
Mati aku. Ujar sarah dalam hati, ketika tahu siapa yang telah ‘ditabraknya’. Dialah si man in light yang selalu ditunggunya di danau.

Seperti seorang Hulk yang sedang marah, si ‘korban’ beranjak dari TKP menuju sang pelaku. Dengan mata merah, menatap sang pelaku. Sedangkan yang ditatap hanya terdiam duduk, tak ada fikiran untuk pergi melarikkan diri.

“lo lagi, kapan sih lo nggak nyusahin gueee!!” teriaknya tepat didepan wajah sarah.

“MAAAAAF, nggak sengaja!” balas sarah tanpa beranjak dari tempat duduknya dan mengangkat tangan seraya meminta ampunan. Si cowok-man in light-itu berdiri dengan kesal, sedangkan sarah menundukkan pandangannya tak berani menatapnya.

suasana menjadi sunyi selama beberapa detik, dan akhirnya terdengar suara dentingan sepeda. Sarah menatap sumber suara, ternyata si man in light membawa sepedanya kehadapan sarah.

“mau berangkatkan?  Udah jam tujuh kurang lima. Kebetulan boncengan gue masih kosong.” Sarah hanya melongo, tak percaya.  

“mau bareng nggak?!!” sarah masih melongo tak percaya.

“yaudah kalau nggak mau, gue duluan ya.” Si man in light berjalan siap menaiki sepedanya, namun sarah cepat-cepat menarik baju seragam putih abu-abu milik si man in light. Alhasil yang ditarik hampir saja jatuh. Si man in light kembali menatap lekat wajah sarah , berusaha meredam rasa marahnya. Sarah kembali menunduk, tak berani manatap mata coklat itu.


“buruan naik, gue udah kehilangan banyak waktu.” Si man in light menatap ke arah depan, posisi siap untuk mengayuh. Sarah hanya menatap sepeda gunung tersebut, dan akhirnya ia menyentuh pundak cowok tersebut dan berdiri tepat dibelakangnya. “siap?” “ehm.” Sarah berpegangan pada pundak cowok tersebut dan merekapun pergi ke sekolah.

#1 #bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar