Dia datang,
tuhkan aku bilang apa. Dia pasti bakalan datang lagi ke tempat ini. Dengan
senyum merekah, aku membenarkan letak kerudungku. Siapa tahu berantakan.
Oh god, sejak kapan aku jadi centil begini.
Aku tersipu malu, menutup muka ku dengan sketchbook
yang dari tadi ku remas. Sebenarnya
niat ku datang ke taman ini untuk mencari inspirasi menggambar, tapi beberapa
hari ini ada alasan lain-kau tahulah- yup.. seseorang yang mengubah hariku
dengan cahayanya.
Namanya..
sialnya aku belum tau namanya, tapi sebut saja dia “man in light”. Sederhana
saja, karena aku suka melihatnya ketika dia sedang memotret. Kau tahu melukis
cahaya, ada sesuatu yang begitu menarik darinya.
Jangan kau
kira dia tampan ya, tapi menurutku lumayan sih. Lumayan tinggi, lumayan berisi,
lumayanlah untuk ukuran umur 18 tahun, dan lumayan membuatku terperangah ketika
dia berdiri dibawah sinar matahari sore.
Kau pasti
bertanya apakah dia mengenalku? Hoho.. tentu saja TIDAK. Aku baru melihatnya
beberapa hari ini, tepatnya 3 hari yang lalu. Seperti biasa menjelang sore hari
aku datang kesini, duduk ditepi danau, sendirian. Saat aku menatap sekeliling,
entah kenapa mata ku mengarah kepada seorang cowok bertopi merah menenteng
kamera DSLR. Dan saat itu juga seperti Edward yang tertimpa sinar matahari
dalam film Twilight, dia berhasil
membuatku terperangah. Seperti ada aura yang keluar, menarik siapa saja untuk
berlama-lama menatapnya.
“Grrrrr…”
suara apa itu? Aku mengalihkan tatapanku dari si-man in light. Oh god, siapa yang ngebiarin anjingnya
lepas? Mukaku pasti sudah pucat pasi dan sekarang aku hanya bisa diam. Gimana tidak,
aku takut sama yang namanya anjing. Dan sialnya sekarang anjing tersebut tepat
berada di depanku, siap melahap sketchbookku.
Mati-matian aku menarik sketchbookku
dari gigitan anjing tersebut.
Help please, ujarku dalam hati.
Tiba-tiba
gigitan pada sketchbookku mengendur,
ku beranikan untuk melihat apa yang terjadi. Dan dia berdiri tepat didepanku.
Aku dapat melihat punggungnya yang membelakangiku, berdiri dengan gagahnya bak
pangeran yang menyelamatkan sang putri.
Oh god, apakah aku yang tuli atau
memang dunia sedang bersenandung untukku.
Masih
dibawah terpaan sinar matahari, laki-laki itu berbalik menatap ku dan berkata “DASAR
PAYAH. ” Aku hanya melongo, bukan, bukan karena dia semakin tampan dibawah
sinar matahari-tapimemang iya- tapi ada scenario yang salah. Maksudku bukankah di film-film biasanya sang
penyelamat akan bertanya “apakah kau baik-baik saja?” atau “apakah ada yang
terluka?”atau menanyakan sesuatu yang romantic? Sepertinya dia salah mengambil
scrip yang harus dibaca. Ya ya aku yakin itu.
Kembali ke
dunia nyata. Aku berdiri berhadapan denganya, tak kusangka ternyata tinggiku
dengannya tak terlalu jauh. Membenarkan letak jilbab dan kerudungku, menatap
sinis kearahnya dan pergi meninggalkannya. Itu sudah meninggalkan kesan menyebalkan,
mungkin.
Dan sekarang
aku bertemu dengannya lagi, entah dia masih ingat atau sudah melupakkan seorang
cewek yang tidak tahu terima kasih ini. Biar saja, siapa suruh dia membuatku
tengsin abis.
Tapi, kesan
saat pertama kali melihatnya itu tidak pernah hilang. Tetap saja aku menantinya
di taman ini, ditemani sejuknya suasana danau dan hangatnya senja. Aduh, sarah sejak kapan kamu jadi senang
memerhatikan cowok. Aku tersenyum sendiri, menutupi mukaku dengan sketchbook yang sudah terkena remasan
berkali-kali. Pulang ah, kalau semakin lama disini, bisa gila aku.
***
“Tidaaaak…
telat lagi!” teriak Sarah sambil berlari keluar rumah. Tapi sayang, BRUUK!!
“Aduh!” sepertinya sarah menabrak sesuatu, tepatnya menabrak ‘seseorang’+
‘sesuatu’.
Mati aku. Ujar sarah dalam hati, ketika tahu
siapa yang telah ‘ditabraknya’. Dialah si man in light yang selalu ditunggunya
di danau.
Seperti
seorang Hulk yang sedang marah, si ‘korban’
beranjak dari TKP menuju sang pelaku. Dengan mata merah, menatap sang pelaku.
Sedangkan yang ditatap hanya terdiam duduk, tak ada fikiran untuk pergi
melarikkan diri.
“lo lagi,
kapan sih lo nggak nyusahin gueee!!” teriaknya tepat didepan wajah sarah.
“MAAAAAF,
nggak sengaja!” balas sarah tanpa beranjak dari tempat duduknya dan mengangkat
tangan seraya meminta ampunan. Si cowok-man in light-itu berdiri dengan kesal,
sedangkan sarah menundukkan pandangannya tak berani menatapnya.
suasana
menjadi sunyi selama beberapa detik, dan akhirnya terdengar suara dentingan sepeda.
Sarah menatap sumber suara, ternyata si man
in light membawa sepedanya kehadapan sarah.
“mau
berangkatkan? Udah jam tujuh kurang lima.
Kebetulan boncengan gue masih kosong.” Sarah hanya melongo, tak percaya.
“mau bareng
nggak?!!” sarah masih melongo tak percaya.
“yaudah
kalau nggak mau, gue duluan ya.” Si man
in light berjalan siap menaiki sepedanya, namun sarah cepat-cepat menarik
baju seragam putih abu-abu milik si man
in light. Alhasil yang ditarik hampir saja jatuh. Si man in light kembali menatap lekat wajah sarah , berusaha meredam
rasa marahnya. Sarah kembali menunduk, tak berani manatap mata coklat itu.
“buruan naik, gue udah kehilangan banyak waktu.” Si man in
light menatap ke arah depan, posisi siap untuk mengayuh. Sarah hanya menatap
sepeda gunung tersebut, dan akhirnya ia menyentuh pundak cowok tersebut dan
berdiri tepat dibelakangnya. “siap?” “ehm.” Sarah berpegangan pada pundak cowok
tersebut dan merekapun pergi ke sekolah.
#1 #bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar